Atheist sebenarnya bukanlah kelompok yang terkunci dengan ide “tidak ada tuhan”, lalu membentuk sebuah gerombolan yang tidak jelas. Pada awalnya para atheist itu individu, pertanyaannya mengapa terbentuk komunitas ateis diberbagai negara? bahkan tidak terhitung lagi jumlahnya digroup-group atau komunitas di internet, facebook, group, milis, forum, dst.
Cukup sederhana jawabannya, adalah timbulnya rasa simpati & empati mereka, mirisnya lingkungan mereka memperlakukan mereka, juga karena pengalaman pahit mereka yang merasa tidak diperlakukan adil dikomunitas masyarakat, dan kesempatan untuk mengutarakan pendapat atau sharing ide yang selama ini terpendam, tidak pernah dikeluarkan pada teman-teman dekatnya yang beragama. Bahkan bagi mereka atheist yang bukan militan, yaitu atheist yang “saya tidak percaya tuhan ada”, lalu diam saja tidak ngomong macam-macam ke khalayak umum atau tidak mengkritik agama manapun, berani muncul di group-group / forum-forum internet.
Tetapi, tentu saja tidak semua yang ikut forum atau group-group atheist semuanya atheist, ada yang jadi-jadian, ada yang newbie, ada yang agnostik dsb.
Ada banyak sebab, para atheist jadi-jadian dan atheist newbie/wannabe sangat lucu dan patut dipertanyakan jati dirinya. Kelucuan atheist abal-abal dan atheist jadi-jadian :
- Sering menghina tuhan / kepercayaan agama dengan kalimat kotor.
Orang yang sudah 10 tahun atau 20 tahun menjalani hidupnya sebagai atheist akan melalui fase ini pada 1 tahun pertama, memang awal-awal menjadi atheist adalah biasanya karena kebencian terhadap tuhan, tapi tidak semua atheist memang begitu.
Seperti gambar-gambar di blog ini, atau artikel-artikel diblog ini adalah bentuk sarkasme, bukan karena kebencian terhadap tuhan dan orang-orang beragama, tetapi kritik kepada mereka kaum beragama yang memakai segala macam cara agar keyakinannya terlihat benar tanpa cacat, tidak boleh dikritik, dan menghina atheist sebagai orang yang paling tidak bermoral didunia.Kaum beragama seringkali tidak bisa membedakan apa itu moralitas.
Contoh moral: Ada pejabat yang beragama yang tega membohongi masyarakat, melakukan korupsi, berselingkuh membohongi istri, kapitalis yang kejam. Sebaliknya ada tukang becak, tukang penjual koran, seorang yang bertato, gay/lesbian, sering menolong orang lain tanpa pamrih. Itulah moral.
Moral tidak bisa ditentukan karena agama atau pandangan ideologi seseorang. Jadi apakah orang atheist tidak bermoral? mereka yang menghakimi atheist sebagai orang yang tidak bermoral, sebaiknya mengecek ulang logika tersebut.
Faktanya adalah Ada orang beragama yang bermoral, Ada yang tidak. Ada atheist yang bermoral, ada yang tidak. Jadi menyamaratakan bahwa atheist tidak bermoral tentu saja ada yang salah dengan cara berpikirnya.
Jadi karena kita semua punya tulang, dan punya daging yang masih utuh, mereka atheist abal-abal yang membaca blog ini, terbukalah, jalani saja hidup kalian, itu lebih penting daripada menghina sesuatu yang bagi kalian tidak ada. - Close minded.
Apabila ada atheist yang membela theist/orang beragama, dalam beberapa kasus tertentu. Mereka atheist yang abal-abal akan memusuhi atheist lain yang membela orang/personal theist yang dalam beberapa kasus memang benar (benar dalam kasus tertentu, bukan tentang kepercayaannya).
Atheist abal-abal memandang ideologinya benar 100%, tidak terbuka kemungkinan-kemungkinan kebenaran baru. Memandang bahwa orang bergama adalah orang-orang bodoh. Atheist abal-abal sama saja dengan theist militan seperti wahabi atau salafy. Mereka mengidap ketertutupan berpikir. - Membuat Atheist seperti orang Idiot
Mengaku bahwa dirinya atheist, lalu membuat heboh, menghina-hina tuhan, menghina agama tertentu, menghina TUHAN dari agama tertentu.Sudah seringkali atheist jadi-jadian seperti ini muncul diberbagai macam group atau forum. Tidak usah dipertanyakan lagi, agama mana saja yang sering melakukan penipuan seperti ini. - Marah kepada TUHAN.
Tidak ada istilah Atheist sejati, karena pada hakikatnya atheist hanyalah orang yang tidak percaya bahwa tuhan itu ada.Banyak yang menjadi atheist jadi-jadian karena kemarahan mereka terhadap tuhan.
Dan itu memberikan citra buruk kepada orang-orang hebat, seperti Carl sagan, Richard Dawkins, George Carlin, Mark zuckerberg, dll, yang kebetulan mereka adalah atheist.Marah kepada tuhan tidak akan menyelesaikan masalah, karena bagi atheist, orang yang “tidak percaya tuhan itu ada”, tidak penting mengapa tuhan berbuat demikian didalam kitab suci “mereka”. Lebih penting kita mempermasalahkan kelakukan para pengikutnya yang extrimis dan psikopat.
Kelucuan tersebut, sangat disayangkan sekali, karena “Hidup itu bukan untuk Mati”, tapi tujuan kita hidup untuk memperjuangkan diri, agar kita semua tetap bertahan hidup, tidak mati disepanjang millenium kedepan. Dan dikenal oleh anak-anak muda yang hidup pada abad-abad selanjutnya.

















