Suku Piraha yg hidup di hutan Amazon memiliki bahasa paling unik di dunia. Bahasa Piraha tidak memiliki konsep dan kata untuk past tense, perfect tense, warna hingga angka. Mereka tidak punya konsep tentang Tuhan atau dewa dan kisah penciptaan. Karenanya mereka tidak bisa memahami konsep-konsep tsb.
Hal ini membuat mereka sangat sulit diinjili dan mustahil bisa menerjemahkan bahasa dan pemikiran kitab kuno dari Timur Tengah ke dalam bahasa dan pemikiran mereka. Suku Piraha tidak bisa memahami dan tidak bisa dibuat paham akan pernyataan semacam “Allah Bapa 2000 tahun yg lalu mengirim Putra tunggal-Nya untuk menebus dosa manusia” atau “Nabi Muhammad 1400 tahun yg lalu menerima wahyu dari Allah yang Maha Esa agar kita masuk Surga”.
Tidak heran kalau Daniel Everett, mantan penginjil yg hidup bertahun2 dgn suku Piraha, akhirnya murtad menjadi ateis. Kalau Tuhan memang ada dan dia mau seluruh bangsa di dunia mengetahui firman-Nya yg dalam satu bahasa Timur Tengah itu, tentu dia akan membuat suku Piraha berbahasa yg tidak seaneh ini, bukan?
Penginjilnya GOBLOK makanya jadi ATEIS..
Orang ATEIS nya aja yang guoblok pollll….
Makanya, firman Tuhan pada nabi Muhammad sebelum diturunkan wahyu.
IQRA! Yang artinya…BACALAH.
Maka, setiap orang yang mau belajar itu, derajatnya di tinggikan Tuhan..Temasuk belajar baca… mas atheis…
Kalo yang nggak mau belajar seperti mas atheis yang memposting asal asalan ini tanpa falsafah, logika, dan nalar yang benar, intinya asal mengejek, dan asal atheis, ya…begini deh, hasilnya. SAMPAH.
Yoi saking uniknya jadi terbelakang gak berkembang.
Ini membuktikan bahwa Tuhan hanya produk IMAJINASI manusia. Dan karena tidak semua manusia punya imajinasi yang sama maka KEMUNGKINAN adanya orang-orang Pirahae ini memang sangat mungkin ada.
Kalau berita ini memang benar, sekali lagi, ini membuktikan bahwa kebahagiaan tidak tergantung pada adanya Tuhan. Imajinasi mengenai Tuhan dan surga diproduksi oleh manusia purba untuk mengatasi rasa takut terhadap kematian. Sesuatu yang wajar.
Bagi mayoritas manusia modern, ‘imajinasi’ manusia purba ini sudah memadai sebagai ‘obat’ untuk menenangkan hatinya yang mendambakan keabadian.
Itulah sebabnya Karl Marx menyebutnya sebagai ‘candu’.
Imajinasi supranatural itu hanya sebuah pelarian dari peristiwa natural: DEATH/KEMATIAN.
Jarang ada orang yang berani menghadapi kematian sebagai peristiwa natural.
Dan orang-orang yang berani menghadapi kematian sebagai peristiwa natural adalah orang-orang yang benar-benar GAGAH BERANI.
Filsuf Yunani Epicurus adalah filsuf yang dengan berani menyatakan sebuah filosofi sederhana yang tidak semua orang BERANI mengikutinya: If I am, death is not. If death is, I am not.
Dia melihat kematian sebagai peristiwa natural. Dia menolak percaya pada dewa-dewi Yunani yang menurutnya hanya dongeng/mitos belaka (dan hal ini terbukti benar pada masa kini, ketika Zeus ditinggalkan dan digantikan dengan Father/Jesus).
Dia menekankan moralitas daripada ritualitas.
Murid-muridnya disebut Epicurean yang terkenal selain moralis juga skeptis dan kritis.
Di zaman Yunani purba, istilah Epicurean dikenal sebagai pengganti istilah atheist.
Apakah di zaman modern ini kita masih juga TERBELAKANG dibandingkan zaman Yunani purba ketika Epicurus hidup?
Masihkah kita dengan SOMBONG mengatakan bahwa orang yang tidak memiliki imajinasi SUPERNATURAL mengenai Tuhan adalah TERBELAKANG?
Bukankah sebaliknya?
Bwahahahaha….
1. Kalau Tuhan produk imajinasi manusia, berarti manusia tersebut lebih maju dibanding manusia yang tidak berimajinasi mengenai keberadaan Tuhan. Terbukti sampai sekarang ilmu pengetahuan belum bisa membuktikan secara mutlak kalau Tuhan adalah hasil Imajinasi. “EVOLUSI”, puluhan juta tahun yang lalu makhluk di bumi sudah mempunyai sistem yang rumit, sejak kapan makhluk berEvolusi, gak ada range yang masuk akal dari teori ini? zzZZzz..
2. Ya.. iyalah, mereka kan tidak beragama, ngapain menggantungkan kebahagian pada keberadaan Tuhan.
Takut pada kematian adalah hal yang manusiawi, karena banyak manusia (orang muda) terlena pada kenikmatan dunia. Orang yang “GAGAH BERANI” adalah orang yang berguna bagi orang lain.
3. Candu/fanatik, itu kan persepsi Karl Max yang tidak beragama, kalo buat gua ritual agama ‘I’ merupakan sugesti positif. Moralitas merupakan bagian dari ritualitas.
4. “Terbalakang”? jawabannya ada di point pertama..
5. Salah satu persepsi gua tentang orang Sombong adalah orang yang mengumbar kritik tanpa perbandingan logika.
1. Science bertolakbelakang dengan Religion. Science meneliti alam natural sedangkan agama alam supernatural (kalau alam ini benar-benar ada lho, bwahahahaha…) Scientist yang bawa-bawa nama Tuhan dalam science reportnya bakal diledek rekan-rekannya: Kamu ini ilmuwan atau agamawan? Jadi scientist memang nggak pada tempatnya membuktikan ada atau tidak adanya Tuhan. Karena Tuhan hanya hasil imajinasi agamawan. Gitu saja koq nggak paham-paham. Bwahahahaha….
2. Nggak nyambung. Apa hubungannya gagah berani dengan berguna bagi orang lain.
3. Benar sekali! Agama hanya SUGESTI! Bwahahaha…
4. Agamawan sampai kapanpun TERBELAKANG dibandingkan ilmuwan. Soalnya yang satu hanya berimajinasi supranatural (mirip dengan dukun) sedangkan yang satunya lagi mencari bukti ilmiah dan alamiah di alam/nature.
5. Logika apa yang dimaksud?
Komen yang mantap dan intelektual. Semoga ramai lagi orang yang terbuka otaknya untuk berfikir, bukan sebagai pengikut yang membuta tuli terhadap sesuatu agama atau kepercayaan.
The true religion bukan sesuatu yg membuta tuli. Ia dibuktikan dengan countless dalil. Keep learning Doc.
http://www.infidels.org/library/historical/robert_ingersoll/why_i_am_agnostic.html
Robert Ingersoll : Why I am Agnostic (Year : 1896, 26 Pages)
Page 24
Man must protect himself. He cannot depend upon the SUPERNATURAL — upon an IMAGINARY FATHER in the skies.
He must protect himself by finding the facts in NATURE, by developing his BRAIN, to the end that he may overcome the obstructions and take advantage of the forces of Nature.
Is there a God?
I do not know.
Is man immortal?
I do not know.
One thing I do know, and that is, that neither hope, nor FEAR, BELIEF, nor denial, can change the fact. It is as it is, and it will be as it must be.
Page 26 (last)
We CANNOT love the inconceivable, but we CAN love wife and child and friend.
We can tell the truth, and we can enjoy the blessed FREEDOM that the BRAVE have won.
We can destroy the monsters of SUPERSTITION, the hissing snakes of ignorance and FEAR.
We can CIVILIZE our fellow-men.
We can fill our lives with generous deeds, with loving words, with art and song,
and all the ecstasies of LOVE.
Yoi manusia kan makhluk berAKAL.. so, manusia harus MANDIRI, itu yang diajarkan agama “I”. Lo pikir miryaran orang yang baragama “I” bergantung pada “supranatural” kalo itu gak masuk akal buat lo, mereka; gua, gak akan bertahan.
Mencintai istri, anak dan teman, sesempit dan sesederhana itu objek Cinta si Robert Ingersoll. Pikirkan cinta untuk Orangtua, penganut kepercayaan/ajaran lain.
Kebebasan yang bertanggung jawab.
Lagu merupakan produk dari Seni. Seni = Cinta yang bersifat Netral (kegunaan sifat/fungsinya tergantung pada subjeknya).
Yang jelas intinya adalah LOVE. Itulah MORALITY yang tertinggi. Diajarkan oleh freethinker bernama Buddha atau Yesus kalau mereka berdua memang pernah eksis.
Kalau M yang dipuja-puji I? Kayaknya sih memang pernah eksis, tapi kalau dibandingkan dengan B /Y ya jauh sekali moralitasnya, bedanya seperti langit dan bumi. Bwahahaha…
Buat yang Englishnya gagap, saya terjemahin ya.
Man must protect himself. He cannot depend upon the SUPERNATURAL — upon an IMAGINARY FATHER in the skies.
Manusia harus melindungi dirinya sendiri. Dia tidak dapat bergantung pada SUPERNATURAL – bergantung pada BAPA IMAJINATIF di langit.
He must protect himself by finding the facts in NATURE, by developing his BRAIN, to the end that he may overcome the obstructions and take advantage of the forces of Nature.
Dia harus melindungi dirinya sendiri dengan menemukan fakta di NATURE/ALAM, dengan mengembangkan BRAIN/OTAK/PIKIRAN, sehingga akhirnya dia dapat mengatasi obstruction/hambatan/kesulitan (hidup) dan mengambil advantage/keuntungan dari kekuatan Alam/Nature.
Is there a God?
I do not know.
Apakah ada Tuhan?
Saya tidak tahu.
Is man immortal?
I do not know.
Apakah manusia immortal/abadi/tak mati-mati?
Saya tidak tahu.
One thing I do know, and that is, that neither hope, nor FEAR, BELIEF, nor denial, can change the fact. It is as it is, and it will be as it must be.
Satu hal yang saya tahu, adalah bahwa, bukan hope/harapan, juga bukan FEAR/KETAKUTAN, juga bukan BELIEF/IMAN, juga bukan denial/penyangkalan, yang dapat mengubah fakta. Fakta adalah fakta seperti apa adanya, dan akan tetap seperti itu sebagaimana mestinya.
Page 26 (last)
We CANNOT love the inconceivable, but we CAN love wife and child and friend.
Kita TIDAK DAPAT mencintai yang tidak dapat dimengerti/dipahami (maksudnya adalah Tuhan yang kata orang theis tak dapat dijangkau pikiran/akal), tapi kita DAPAT mencintai istri dan anak dan teman.
We can tell the truth, and we can enjoy the blessed FREEDOM that the BRAVE have won.
Kita dapat mengatakan kebenaran, dan kita dapat menikmati KEBEBASAN yang telah dimenangkan oleh orang-orang GAGAH BERANI.
We can destroy the monsters of SUPERSTITION, the hissing snakes of ignorance and FEAR.
Kita dapat menghancurkan monster-monster TAKHAYUL, ular-ular yang selalu mendesiskan ketidaktahuan/ignorance (istilah halus dari kebodohan/stupidity) dan ketakutan/fear.
We can CIVILIZE our fellow-men.
Kita dapat memberADABkan sesama manusia.
We can fill our lives with generous deeds, with loving words, with art and song,
and all the ecstasies of LOVE.
Kita dapat mengisi hidup kita dengan perbuatan baik/murah hati, dengan kata-kata penuh kasih, dengan seni dan lagu, dan semua kenikmatan/kebahagiaan/ekstasi yang berasal dari KASIH SAYANG.
Wekekekekekekeke….. Lebay..
http://www.brainyquote.com/quotes/authors/e/epicurus.html
Death does not concern us, because as long as we exist, death is not here. And when it does come, we no longer exist. (Epicurus)
Kematian sama sekali tidak peduli dengan kita, karena selama kita masih hidup/eksis, kematian tidak ada. Dan ketika kematian datang, kita tidak lagi hidup/eksis.
The art of living well and the art of dying well are one. (Epicurus)
Seni untuk hidup dengan baik dan seni untuk mati dengan baik adalah satu/sama.
———————–
If God listened to the prayers of men, all men would quickly have perished: for they are forever praying for evil against one another. (Epicurus)
Jika Tuhan/Dewa mendengar doa-doa manusia, maka semua manusia akan segera dimusnahkan; karena mereka selalu dan selamanya berdoa untuk hal-hal yang jahat/tidak baik – satu sama lain. (Apa yang dikatakan Epicurus memang benar, umat agama A misalnya berdoa agar agama B lenyap, demikian pula sebaliknya).
It is folly for a man to pray to the gods for that which he has the power to obtain by himself. (Epicurus)
Ada sebuah kebodohan bagi seorang manusia yang berdoa kepada tuhan/dewa untuk hal-hal yang bisa dia dapatkan dengan kuasa/kekuatan yang dia miliki.
————————
A free life cannot acquire many possessions, because this is not easy to do without servility to mobs or monarchs. (Epicurus)
Sebuah kehidupan yang bebas/merdeka tidak dapat memiliki banyak kepemilikan, sebab hal ini (menjadi kaya/ memiliki banyak harta) sulit dilakukan tanpa menjadi budak dari para perompak atau menjadi hamba dari para raja.
Do not spoil what you have by desiring what you have not; remember that what you now have was once among the things you only hoped for. (Epicurus)
Jangan menyia-nyiakan apa yang sudah anda miliki dengan menginginkan/ mengharapkan apa yang belum anda miliki: ingatlah bahwa apa yang anda miliki saat ini adalah salah satu dari sekian banyak yang anda inginkan/harapkan.
————————
If thou wilt make a man happy, add not unto his riches but take away from his desires. (Epicurus)
Jika Anda ingin membuat seorang manusia bahagia, jangan menambah kekayaannya tapi kurangilah keinginan/nafsunya.
Of all the things which wisdom provides to make us entirely happy, much the greatest is the possession of friendship. (Epicurus)
Dari semua hal yang disediakan kearifan untuk membuat kita bahagia sepenuhnya, yang paling membuat kita bahagia adalah memiliki sahabat/persahabatan.
—————-
Justice… is a kind of compact not to harm or be harmed. (Epicurus)
Keadilan….. adalah semacam perjanjian untuk tidak melukai atau dilukai.
—————
Nothing is enough for the man to whom enough is too little. (Epicurus)
Tidak ada yang cukup bagi manusia yang merasa cukup itu terlalu sedikit.
It is better for you to be free of fear lying upon a pallet, than to have a golden couch and a rich table and be full of trouble. (Epicurus)
Adalah lebih baik bagi Anda untuk hidup bebas dari rasa takut dengan tidur di atas papan kayu daripada memiliki sofa emas dan meja mewah yang penuh dengan masalah.
Riches do not exhilarate us so much with their possession as they torment us with their loss. (Epicurus)
Orang-orang kaya tidak bisa membuat kita bahagia/terbuai dengan harta benda/ kepemilikan mereka, sama seperti mereka juga tidak bisa membuat kita sedih/tersiksa ketika mereka kehilangan harta benda/ kepemilikan mereka.
————-
The time when most of you should withdraw into yourself is when you are forced to be in a crowd. (Epicurus)
Saat ketika Anda harus berpaling ke dalam diri adalah saat Anda dipaksa/terpaksa berada dalam hiruk pikuk banyak orang/sekerumunan orang.
I have never wished to cater to the crowd; for what I know they do not approve, and what they approve I do not know. (Epicurus)
Saya tidak pernah berharap bisa memenuhi keinginan banyak orang atau membuat senang banyak orang, karena apa yang saya ketahui mereka tidak menyetujuinya, dan apa yang mereka setujui saya tidak (mau) tahu.
- Kematian seperti helaan nafas manusia, setiap detik merupakan misteri yang menghampiri untuk merenggut hidup kita, karena apa? karena kompleksitas kehidupan/takdir.
- “If God listened to the prayers of men, all men would quickly have perished: for they are forever praying for evil against one another”. Hahhahahahahahahahah… Ketololan pendapat tanpa melakukan observasi. Hey tolol… dalam agama “I” berdoa untuk kebaikanlah yang akan diterima, ‘Sabar, Tidak buruk sangka’ itu bagian Prinsip agama “I”.
“Jangan menyia-nyiakan apa yang sudah anda miliki dengan menginginkan/ mengharapkan apa yang belum anda miliki: ingatlah bahwa apa yang anda miliki saat ini adalah salah satu dari sekian banyak yang anda inginkan/harapkan.” itulah yang dinamakan Bersyukur, salah satu prinsip agama “I”. Ketinggalan lo coy… ribuan tahun lalu sudah eksis ni falsafat. Wekekekeke..
Bla,, bla,, bla…
Kenyataannya memang begitu bukan? Bukankah I selalu berprasangka buruk terhadap atheis ataupun orang tidak beragama?
Mana yang lebih dulu? Filsafat I yang baru 1400 tahun (kalaupun I punya filsafatnya sendiri, karena sebenarnya I hanya comot sana-sini saja, bwahahahaha…) atau filsafat Yunani Purba yang sudah lebih dari 2000 tahun. Bwahahaha…
Anak kecil juga tahu coy…!
terkadang yang benar2 sulit adalah mencari nafkah/pekerjaan,apalagi anak kecil.
Yang pasti,kalau orang kaya lebih banyak senangnya di banding susahnya.
yang pasti orang tampan/cantik lebih banyak yang sukai ketimbang si buruk rupa (gorila, bwahahahaha).
ngebacot kok,gak di pikir dulu.
Yah, itulah ‘bacotan’ Epicurus yang membuat emosional orang-orang I seperti Anda. Bwahahaha…
@ Jay
Bwahahahaha..hanya segitukah kwalitas manusia Freethinker.
jangankan untuk di harapkan pertolongannya untuk memberi mereka yang lapar,sekedar menghiburpun enggak mampu.
Waduh, keliatan cetek banget nih orang yang ngaku2 mantan penginjil ini. Saya ragu apa dia memank dari awal seorang yang mempunyai hati seorang hamba.
Dia cuma tinggal bertahun-tahun disana, banyak daerah yang awalnya belum terjamah Injil yang didatangi missionaris, penginjil, pendeta dan bahkan mereka sampai meninggal pun orang-orang daerah tersebut masih belum dapat menerima injil karena keterbatasan bahasa dan perbedaan budaya bahkan ada yang sampai menjaid martyrs karena di bunuh warga setempat. Tapi pengorbanan yang mereka lakukan tidak sia-sia, air mata, hati mereka yang hancur bahkan darah mereka semua itu adalah benih-benih yang mereka tabur. Seperti tertulis dalam Alkitab Yoh 4:37 Peribahasa ini benar juga, ‘Yang satu menanam, yang lain menuai.
Mungkin mereka tidak menuai langsung hasilnya tapi saat itu mereka menabur, dan pekerja lain akan menuainya dan semua itu adalah pekerjaan Allah dan untuk kemuliaan Allah.
Orang ini sama sekali tidak pantas di banggakan apalagi mau menyebut dirinya mantan penginjil.
Saya sarankan orang yang menulis artikel ini membaca buku biografi missionaris supaya wawasannya terbuka.
Saya muslim, tapi saya sangat menghargai perbedaan agama. Saya hidup berdampingan damai dengan umat nasrani dan yg lain. Dalam agama saya bahkan menyebutkan
lakum dinukum waliyadiiin..
Bagiku agamaku dan bagimu agamamu.
Tak masalah, asal kita hidup berdamai.
Tapi kok isi blog dan pemikiran orang2 atheis ini selalu ingin mendoktrinasi dengan susah payahnya ya? Dan yg lebay, mereka menginjak , menyakiti hati orang yg beragama. Sepertinya mereka itu lebih hebat dan lebih cerdas. Spertinya mereka itu manusia yg tak punya cacat. Postingannya benar2 bikin suasana rusuh. Lain sekali dengan dakwah Islam atau penginjil, hindu, buddha dll…kaum beragama mengerti etika. Dan kaum atheis yg minoritas ini, tidak. Karena TOLOL!
coba simak video ini http://www.youtube.com/watch?v=Dwb7pVR9DA8
Reverend E. P. Scott adalah seorang missionary di India. Pada suatu hari hatinya digerakkan oleh Roh Kudus untuk memberitakan Injil ke sebuah suku pedalaman yang belum pernah mendengar Injil. Tapi untuk hal itu dia harus meninggalkan teamnya dan berangkat sendiri ke daerah suku pedalaman tersebut untuk membagikan Injil.
Dalam perjalannya, dia bertemu segerombolan orang-orang dari suku pedalam tersebut yang langsung mengusung tombak mereka ke arahnya. Dia berpikir mungkin dia akan mati, lalu dia memutuskan untuk menggunakan saat terakhirnya memuji Tuhan dengan violinnya dan menyanyi sebuah hymn “All Hail The Power Of Jesus’ Name “. Lalu dia berlutut, menutup matanya, memainkan violinnya dan bernyanyi. Dia terus benyanyi dan akhirnya sadar, dia masih hidup. Lalu ia membuka matanya dan orang-orang suku pedalaman tersebut sudah menurunkan tombaknya dan meneteskan air mata mereka. Dan dia diijinkan untuk tinggal disana. Lalu ia membagikan Injil itu disuku itu.
Saya baca sekilas artikel ttg Daniel Everett dari link yang di beri di tulisan ini, saya melihat perbedaan antara kisah Daniel Everett yaitu dia mengandalkan kekuatannya sendiri sehingga tidak ada kuasa dalam pelanyannya. Berbeda dengan Reverend E. P. Scott, dia tidak mengandalkan logikanya sendiri, hanya taat pada panggilannya dan pada saat yang menakutkan pun dia tetap berserah pada Tuhan dan Tuhan menyatakan kuasanya dalam pelayanannya.
Jesus is not god. He’s just a prophet.
Mending ke <a href="http://tidungwisata.com"tidungwisata
orang Gila ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Yang jelas salah Bukan mereka yang beragama. Tapi sudah jelas ateis lah yg salah.
Eh malah ngelantur.
Perhatikan baik baik.
Ajaran agama melarang pembunuhan. Jelas agama mana pun melarangnya.
Yang salah ya mereka ga memakai ajaran agama’y, atau pembunuhan mengatasnamakan agama atau kepentingan lain..
Bahkan bukankah ateis yg jernih pun, melarang pembunuhan.. ??
Larangan itu lah yg disebut kebenaran, entah itu berasal dari agama (islam, kristen, budha, hindu, dll) atau dari ateisme.
Kebenaran letak’y dari larangan pembunuhan itu..
Jangan hanya karena ateis benci lantaran ajaran kebenaran itu di adopsi oleh agamis, lantas serta merta segala yg salah dilimpahkan pd kaum agamis..
Mas, saya setuju..
Ternyata oh ternyata..
Si atheis yg bikin dan nimbrung di log ini cuma oknum aja kok…
Masih banyak atheis2 lain yg berbudi pekerti.
Hei, buat si penulis blog, kamu itu bergama dan tidak, tak ada bedanya, saya juga tak perduli kok. Tapi yang bikin sengit adalah…
Moralmu yg rendah itu yg menyebabkan kami sangat membenci blog mu.
intinya hidup itu membingungkan
Mana yang benar? Tuhan ada atau tidak?
Yg pasti biiinguuuuuunnggg